Strategi Bertanya (Questioning Techniques) dalam Bahasa Inggris untuk Memancing Diskusi Siswa

Strategi Bertanya (Questioning Techniques) dalam Bahasa Inggris untuk Memancing Diskusi Siswa

Pernahkah kamu mengajukan sebuah pertanyaan di kelas, lalu yang terdengar hanya keheningan? Situasi seperti ini adalah salah satu tantangan paling umum yang dihadapi guru dan dosen ketika mengajar menggunakan bahasa Inggris. Kabar baiknya, ada solusi konkret untuk mengatasinya, yaitu dengan menguasai questioning techniques dalam bahasa Inggris. Teknik ini bukan sekadar cara bertanya, melainkan seni merancang pertanyaan yang mampu membuka pikiran siswa, memantik rasa ingin tahu, dan mendorong mereka untuk berbicara lebih aktif di kelas.
Dalam konteks English as a Medium of Instruction (EMI) atau pembelajaran berbasis bahasa Inggris, kemampuan bertanya secara efektif menjadi salah satu kunci keberhasilan pengajaran. Guru yang hanya mengandalkan pertanyaan “yes or no” cenderung mendapatkan respons yang minim, sementara guru yang menggunakan pertanyaan yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat, bisa mengubah kelas yang senyap menjadi ruang diskusi yang hidup dan produktif.
Artikel ini hadir sebagai panduan praktis bagi kamu yang sedang mengajar atau bersiap mengajar menggunakan bahasa Inggris. Mulai dari jenis-jenis pertanyaan, strategi penerapannya di kelas, hingga contoh kalimat yang bisa langsung kamu gunakan, semuanya akan dibahas secara menyeluruh dan langsung bisa dipraktikkan.

Mengapa Teknik Bertanya Itu Penting?

Sebelum masuk ke tekniknya, penting untuk memahami dulu mengapa bertanya itu sangat krusial dalam proses belajar mengajar. Menurut penelitian dalam bidang pendidikan, pertanyaan yang diajukan oleh guru memiliki peran besar dalam mendorong critical thinking atau kemampuan berpikir kritis siswa. Pertanyaan yang baik tidak hanya mengecek pemahaman, tetapi juga mengajak siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, bahkan menciptakan ide baru.
Dalam kelas berbahasa Inggris, tantangannya berlipat ganda. Siswa tidak hanya harus berpikir, tetapi juga harus menyampaikan pikirannya dalam bahasa yang mungkin belum sepenuhnya mereka kuasai. Di sinilah peran guru menjadi sangat krusial, karena dengan pertanyaan yang tepat, guru bisa memberikan scaffold atau dukungan kebahasaan yang membantu siswa mengekspresikan diri mereka dengan lebih percaya diri.
Guru menggunakan teknik open-ended question untuk memancing diskusi aktif di kelas bahasa Inggris

Jenis-Jenis Pertanyaan dalam Bahasa Inggris

Secara umum, pertanyaan dalam konteks pengajaran dibagi menjadi beberapa jenis. Memahami masing-masing jenis ini akan membantumu memilih pertanyaan yang paling tepat untuk setiap situasi.

1. Closed Questions (Pertanyaan Tertutup)

Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang jawabannya sudah terbatas, biasanya “yes” atau “no”, atau sebuah fakta tunggal. Contohnya:
“Is the answer true or false?”
“What year was this text written?”
“Did you finish the reading?”

Pertanyaan jenis ini berguna untuk mengecek pemahaman dasar atau memulai sebuah topik. Namun, jika digunakan terus-menerus, pertanyaan tertutup tidak akan memancing diskusi yang mendalam.

2. Open-Ended Questions (Pertanyaan Terbuka)

Ini adalah jenis pertanyaan paling kuat untuk memantik diskusi. Pertanyaan terbuka tidak memiliki satu jawaban yang benar, sehingga siswa didorong untuk berpikir lebih luas dan mengungkapkan perspektif mereka sendiri.
Contoh:
What do you think about the author’s argument? Do you agree or disagree?”
“How would you solve this problem if you were in that situation?”
“Why do you think the character made that decision?”

Pertanyaan terbuka sangat cocok digunakan saat sesi diskusi, brainstorming, atau refleksi akhir pelajaran.

3. Probing Questions (Pertanyaan Menggali)

Probing questions digunakan untuk menggali lebih dalam dari jawaban yang sudah diberikan siswa. Teknik ini sangat efektif untuk mengembangkan jawaban yang masih dangkal menjadi lebih kaya dan bersubstansi.
Contoh:
“Can you tell me more about that?”
“What makes you say that?”
“Can you give an example to support your point?”
“How does this connect to what we discussed earlier?”

Probing questions menunjukkan bahwa kamu sebagai guru benar-benar mendengarkan dan menghargai respons siswa, sekaligus mendorong mereka untuk berpikir lebih dalam.

4. Redirecting Questions (Pertanyaan Pengalih)

Teknik ini digunakan untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam diskusi, terutama ketika hanya satu atau dua orang yang dominan berbicara.
Contoh:
“That’s a great point! What does the rest of the class think?”
“Does anyone have a different perspective?”
“Maria, what’s your take on what David just said?”

Redirecting questions membantu menciptakan diskusi yang lebih merata dan memastikan semua siswa merasa dilibatkan.

5. Hypothetical Questions (Pertanyaan Hipotetis)

Pertanyaan hipotetis mengajak siswa untuk berimajinasi dan berpikir di luar kotak. Pertanyaan ini sangat efektif untuk topik-topik yang memerlukan analisis mendalam atau kreativitas.
Contoh:
“What would happen if we removed this variable from the equation?”
“If you were the policymaker, what decision would you make?”
“Imagine you’re living in the 19th century. How would your daily life be different?”
Ilustrasi Bloom's Taxonomy pyramid menunjukkan tingkatan berpikir dari dasar hingga tingkat tinggi.

Bloom’s Taxonomy sebagai Panduan Merancang Pertanyaan

Salah satu kerangka paling populer dalam dunia pendidikan untuk merancang pertanyaan adalah Bloom’s Taxonomy. Kerangka ini membagi tingkat kognitif menjadi enam level, mulai dari yang paling dasar hingga yang paling kompleks.
LevelKata Kunci PertanyaanContoh
RememberWhat, When, Who, List“What are the key terms in this chapter?”
UnderstandExplain, Summarize, Describe“Can you explain this concept in your own words?”
ApplyHow would you, Demonstrate“How would you apply this theory to a real-life case?”
AnalyzeWhy, Compare, Differentiate“Why do you think these two approaches are different?”
EvaluateAssess, Justify, Argue“Do you think this solution is effective? Why?”
CreateDesign, Propose, Construct“How would you design a solution for this problem?”

Sebagai guru atau dosen, idealnya kamu tidak hanya berhenti di level “Remember” atau “Understand”. Cobalah untuk secara bertahap membawa pertanyaanmu ke level yang lebih tinggi agar kemampuan berpikir kritis siswa benar-benar terlatih.

Strategi Praktis Menerapkan Questioning Techniques di Kelas

Memahami jenis pertanyaan saja tidak cukup. Kamu juga perlu tahu bagaimana menerapkannya secara efektif di dalam kelas. Berikut beberapa strategi yang bisa langsung kamu coba.

1. Terapkan “Wait Time”

Salah satu kesalahan paling umum yang dilakukan guru adalah langsung menjawab sendiri ketika siswa tidak segera merespons. Padahal, penelitian dari Mary Budd Rowe menunjukkan bahwa memberikan wait time atau waktu tunggu minimal 3 sampai 5 detik setelah mengajukan pertanyaan secara signifikan meningkatkan kualitas dan panjang jawaban siswa.
Jadi, setelah mengajukan pertanyaan, tarik napas, beri siswa waktu untuk berpikir, dan tahan godaan untuk langsung mengisi keheningan tersebut. Kamu bisa mengatakan: “Take your time, there’s no rush.”

2. Gunakan Think-Pair-Share

Teknik Think-Pair-Share adalah salah satu metode kolaboratif yang sangat efektif untuk mendorong siswa berbicara dalam bahasa Inggris tanpa merasa tertekan. Caranya:
Think: Ajukan pertanyaan dan minta siswa berpikir secara individu selama 1 sampai 2 menit.
Pair: Minta mereka mendiskusikan jawaban dengan teman sebangku.
Share: Undang beberapa pasang untuk berbagi jawaban mereka ke seluruh kelas.

Dengan cara ini, siswa sudah “berlatih” menjawab dengan pasangannya sebelum harus berbicara di depan kelas, sehingga rasa percaya diri mereka meningkat.

3. Scaffold Pertanyaanmu

Jika kamu mengajar siswa yang kemampuan bahasa Inggrisnya masih berkembang, mulailah dengan pertanyaan yang lebih sederhana, lalu secara bertahap naik ke pertanyaan yang lebih kompleks. Teknik ini disebut scaffolding. Misalnya:
Mulai dengan: “What did you read about in the article?” (Remember)
Lanjutkan dengan: “What does it mean when the author says…?” (Understand)
Tingkatkan ke: “Why do you think this issue is important today?” (Evaluate)

Scaffolding memastikan semua siswa bisa ikut berpartisipasi, terlepas dari level kemampuan bahasa Inggris mereka.

4. Hindari “Fishing Questions”

Fishing questions adalah pertanyaan di mana guru sudah memiliki satu jawaban spesifik yang “diharapkan”, dan terus mengarahkan siswa hingga menjawab hal yang sama persis. Contohnya: “The answer is related to… what? Yes, exactly… what?”
Pertanyaan jenis ini justru menghambat kreativitas berpikir siswa. Alih-alih, biarkan ruang untuk berbagai jawaban yang valid dan hargai setiap respons yang masuk akal secara logis.

5. Gunakan “Question Stems” sebagai Pemicu

Question stems adalah frasa pembuka yang bisa kamu modifikasi sesuai topik. Memiliki daftar question stems yang siap pakai akan sangat membantumu, terutama saat mengajar secara spontan. Beberapa contoh yang bisa kamu gunakan:
“What evidence supports the idea that…?”
“How is … similar to or different from …?”
“What would happen if …?”
“What are the implications of …?”
“In what ways could … be improved?”

Mengelola Respons Siswa dengan Efektif

Pertanyaan yang baik juga harus diikuti dengan pengelolaan respons yang tepat. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Berikan Respons Positif, tapi Tidak Berlebihan
Mengatakan “Good!” atau “Excellent!” setiap kali siswa menjawab memang terasa supportif, tetapi jika dilakukan terus-menerus, hal ini justru kehilangan maknanya. Coba variasikan responsmu dengan kalimat seperti:
“That’s an interesting perspective.”
“I hadn’t thought of it that way. Can you elaborate?”
“That’s a valid point. Does anyone want to add to that?”

Jangan Abaikan Jawaban yang Salah
Ketika siswa memberikan jawaban yang kurang tepat, gunakan momen ini sebagai kesempatan belajar, bukan sebagai sesuatu yang memalukan. Kamu bisa mengatakan: “I see where you’re coming from. Let’s think about this together…” lalu pandu mereka ke pemahaman yang benar secara kolaboratif.

Rekam Ide di Papan Tulis
Menuliskan poin-poin penting dari jawaban siswa di papan tulis atau whiteboard membuat diskusi terasa lebih terstruktur dan menunjukkan bahwa kamu menghargai kontribusi mereka. Ini juga membantu siswa yang lebih visual untuk mengikuti alur diskusi.

Contoh Skenario: Questioning Techniques dalam Kelas EMI

Bayangkan kamu mengajar mata kuliah Manajemen Bisnis dalam bahasa Inggris, dan topik hari ini adalah “Business Ethics”. Berikut adalah contoh bagaimana kamu bisa menerapkan berbagai teknik bertanya dalam satu sesi:
Pembuka (Closed Question untuk memulai):
“Have you ever faced a situation where you had to choose between profit and ethics?”

Membangun Pemahaman (Open-Ended):
“What do you think business ethics actually means in a real corporate environment?”

Menggali Lebih Dalam (Probing):
Siswa menjawab bahwa etika bisnis adalah tentang kejujuran. Kamu lanjutkan: “That’s a great start. Can you give us a real-world example where a company prioritized honesty over profit?”

Melibatkan Semua (Redirecting):
“Interesting point, Andi. Siti, do you agree with what Andi said? Why or why not?”

Mendorong Berpikir Tingkat Tinggi (Hypothetical + Evaluate):
“If you were the CEO of a company facing a conflict between profit and environmental responsibility, what decision would you make, and how would you justify it to your shareholders?”

Dengan urutan pertanyaan seperti ini, kamu bisa membawa diskusi dari yang sederhana ke arah yang semakin mendalam dan bermakna, tanpa membuat siswa merasa tiba-tiba “dilempar” ke pertanyaan yang terlalu sulit.
Dosen menerapkan teknik wait time dan probing questions saat sesi diskusi mahasiswa di kelas EMI.

Tantangan Umum dan Cara Mengatasinya

Siswa Diam Setelah Pertanyaan Diajukan
Ini adalah situasi yang paling sering dikeluhkan guru. Solusinya, pastikan pertanyaanmu tidak terlalu abstrak, berikan konteks yang cukup sebelum bertanya, dan gunakan teknik Think-Pair-Share agar siswa punya waktu mempersiapkan jawaban.

Hanya Siswa Tertentu yang Aktif
Gunakan teknik cold calling secara ramah, yaitu memanggil nama siswa tertentu untuk menjawab, namun pastikan kamu tidak melakukannya dengan cara yang menekan. Kamu bisa katakan: “Let’s hear from someone who hasn’t shared yet. How about you, Rafi?” Pastikan pertanyaan yang kamu ajukan sesuai dengan kemampuan siswa tersebut.

Diskusi Melenceng dari Topik
Ini sebenarnya bukan sepenuhnya masalah, selama relevan dengan proses berpikir siswa. Namun jika terlalu jauh, gunakan redirecting question untuk membawa diskusi kembali: “That’s a fascinating point. How does this connect back to our main topic today?”

Kesimpulan

Menguasai questioning techniques dalam bahasa Inggris adalah salah satu investasi terbaik yang bisa kamu lakukan sebagai seorang pendidik. Dengan memahami jenis-jenis pertanyaan, menerapkan wait time, menggunakan kerangka Bloom’s Taxonomy, serta mengelola respons siswa secara efektif, kamu bisa mengubah dinamika kelas menjadi jauh lebih hidup, kritis, dan bermakna. Pertanyaan yang dirancang dengan baik bukan hanya alat untuk mengecek pemahaman, melainkan jembatan antara materi pelajaran dan kemampuan berpikir siswa yang sesungguhnya.

Yang tak kalah penting, teknik bertanya yang baik juga membangun kepercayaan diri siswa dalam berbahasa Inggris. Ketika mereka merasa aman untuk menjawab, salah, dan mencoba lagi tanpa rasa takut dihakimi, itulah saat kelas benar-benar menjadi ruang belajar yang ideal. Peranmu sebagai guru atau dosen tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga menciptakan lingkungan di mana siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk terus berkembang.

Jika kamu serius ingin meningkatkan kemampuanmu mengajar menggunakan bahasa Inggris, termasuk menguasai strategi bertanya dan berbagai teknik pengajaran EMI lainnya, saatnya mengambil langkah nyata. Pusat Bahasa Telkom University (Telkom University Language Center) menghadirkan program English for Teaching yang dirancang khusus untuk guru dan dosen yang ingin tampil percaya diri di kelas berbahasa Inggris. Program ini terdiri dari 20 sesi interaktif yang mencakup classroom language, lesson planning, classroom management, hingga praktik micro-teaching langsung dengan umpan balik personal dari instruktur berpengalaman, termasuk native speaker dan pakar EMI. Daftarkan dirimu sekarang dan jadilah pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi benar-benar menginspirasi!


Eksplorasi konten lain dari Telkom University Language Center

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *