
IELTS Academic vs General Training: Mana yang Wajib Diambil untuk Daftar Beasiswa?
Ketika berbicara soal beasiswa luar negeri, satu pertanyaan yang hampir selalu muncul adalah: harus ambil IELTS Academic vs General Training untuk beasiswa, dan mana yang sebenarnya diminta? Pertanyaan ini wajar sekali, terutama bagi kamu yang baru pertama kali bersentuhan dengan tes IELTS. Banyak orang langsung panik begitu tahu bahwa IELTS tidak hanya satu jenis, dan bingung apakah salah memilih jenis tes bisa berakibat fatal pada aplikasi beasiswa mereka. Jawabannya, ya, pilihan jenis tes ini memang sangat penting dan tidak bisa sembarangan.
IELTS sendiri adalah singkatan dari International English Language Testing System, yaitu tes kemampuan bahasa Inggris yang diakui secara internasional dan dikelola bersama oleh British Council, IDP: IELTS Australia, dan Cambridge Assessment English. Tes ini tersedia dalam dua versi utama, yaitu Academic dan General Training, yang meskipun memiliki komponen yang sama (Listening, Reading, Writing, dan Speaking), tetapi berbeda secara signifikan dalam hal format soal, tingkat kesulitan, dan yang paling penting, tujuan penggunaannya. Memahami perbedaan keduanya secara mendalam adalah langkah pertama yang wajib dilakukan sebelum mendaftarkan diri ke tes IELTS mana pun.
Artikel ini akan membahas secara tuntas perbedaan IELTS Academic dan General Training, termasuk mana yang paling sering disyaratkan oleh program beasiswa bergengsi, seperti apa formatnya, dan bagaimana kamu bisa mulai mempersiapkan diri dengan strategi yang tepat. Jika kamu seorang guru, dosen, atau profesional yang sedang mengincar beasiswa untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, artikel ini wajib dibaca sampai habis.
Apa Itu IELTS Academic?
IELTS Academic adalah versi tes IELTS yang dirancang khusus untuk mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana (S1), pascasarjana (S2), atau doktoral (S3) di universitas berbahasa Inggris. Tes ini juga digunakan sebagai syarat pendaftaran ke program profesi tertentu, seperti dokter atau perawat, di beberapa negara. Secara umum, IELTS Academic menguji kemampuan bahasa Inggris akademis, yaitu kemampuan membaca teks kompleks, menganalisis data, menulis esai argumentatif, dan berkomunikasi dalam konteks akademis.
Pada bagian Reading, soal-soal IELTS Academic diambil dari artikel jurnal, laporan ilmiah, dan teks akademis lainnya yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Teksnya panjang, penuh dengan terminologi ilmiah, dan membutuhkan kemampuan analisis yang tajam. Sementara itu, pada bagian Writing, peserta harus mengerjakan dua tugas: Writing Task 1 mengharuskan peserta mendeskripsikan data dari grafik, diagram, atau peta dalam minimal 150 kata, sedangkan Writing Task 2 mengharuskan peserta menulis esai argumentatif dengan minimal 250 kata. Kedua tugas ini menuntut kemampuan berpikir kritis dan penguasaan struktur tulisan akademis yang kuat.
Apa Itu IELTS General Training?
i sisi lain, IELTS General Training ditujukan untuk mereka yang ingin bermigrasi ke negara-negara berbahasa Inggris seperti Australia, Kanada, Inggris, atau Selandia Baru, atau yang ingin mendaftar program pelatihan non-akademis dan pekerjaan di luar negeri. Jenis tes ini juga digunakan untuk beberapa program pendidikan di bawah level sarjana. Secara keseluruhan, IELTS General Training mengukur kemampuan bahasa Inggris dalam konteks kehidupan sehari-hari dan lingkungan kerja, bukan konteks akademis.
Perbedaan paling mencolok ada pada bagian Reading dan Writing. Teks bacaan di IELTS General Training lebih variatif dan lebih dekat dengan kehidupan nyata, mulai dari pengumuman, iklan, panduan kerja, hingga surat kabar. Sementara itu, Writing Task 1 di versi General Training meminta peserta untuk menulis sebuah surat (surat formal, semi-formal, atau informal) sebagai respons atas situasi yang diberikan, bukan mendeskripsikan grafik. Writing Task 2-nya memang sama dengan versi Academic, yaitu menulis esai, tetapi topiknya cenderung lebih umum dan tidak sekompleks versi Academic. Ini membuat banyak orang menganggap IELTS General Training lebih mudah, meskipun tetap membutuhkan persiapan yang serius.

Perbandingan Format: Academic vs General Training
Agar lebih mudah dipahami, berikut adalah perbandingan format kedua jenis tes IELTS secara ringkas.
Listening: Kedua versi memiliki format Listening yang identik. Terdiri dari empat bagian (sections) dengan total 40 pertanyaan, berlangsung sekitar 30 menit. Rekaman audio yang digunakan mencakup berbagai aksen bahasa Inggris dari berbagai negara.
Reading: Inilah bagian yang berbeda signifikan. Academic menggunakan tiga teks panjang dari sumber akademis dengan total sekitar 2.150 hingga 2.750 kata. General Training menggunakan lima hingga enam teks pendek hingga menengah dari berbagai sumber umum, dengan total kata yang serupa tetapi tingkat akademisnya lebih rendah.
Writing: Academic Task 1 adalah deskripsi grafik atau diagram, sementara General Task 1 adalah penulisan surat. Task 2 di kedua versi sama-sama berupa esai argumentatif, tetapi kompleksitas topik Academic cenderung lebih tinggi.
Speaking: Format Speaking di kedua versi identik, terdiri dari tiga bagian: perkenalan dan pertanyaan umum (Part 1), pidato pendek berdasarkan kartu topik (Part 2), dan diskusi mendalam (Part 3). Berlangsung sekitar 11 hingga 14 menit.

IELTS Mana yang Diminta untuk Beasiswa?
Ini adalah inti dari pertanyaan yang paling banyak ditanyakan. Jawaban singkatnya adalah: hampir semua program beasiswa bergengsi yang mensyaratkan IELTS meminta IELTS Academic, bukan General Training. Ini karena beasiswa pada umumnya diberikan untuk tujuan pendidikan tinggi, dan universitas tujuan membutuhkan bukti bahwa calon mahasiswanya mampu mengikuti perkuliahan dalam bahasa Inggris di tingkat akademis.
Beberapa beasiswa paling populer di Indonesia yang mensyaratkan IELTS Academic antara lain LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang umumnya mensyaratkan skor IELTS minimal 6.0 hingga 6.5 untuk program S2 luar negeri, Beasiswa Chevening dari pemerintah Inggris yang biasanya mensyaratkan skor minimal 6.5 dengan tidak ada komponen di bawah 5.5, Beasiswa Australia Awards yang mensyaratkan skor Academic minimal 6.0 hingga 6.5, serta berbagai beasiswa dari universitas-universitas di Eropa, Amerika, dan Asia yang rata-rata mensyaratkan skor IELTS Academic antara 6.0 hingga 7.0 tergantung program studinya.
Penting untuk selalu membaca persyaratan beasiswa secara detail. Beberapa program memiliki ketentuan khusus, misalnya mensyaratkan skor minimum tertentu untuk setiap komponen (band score per skill), bukan hanya skor rata-rata keseluruhan (overall band score). Misalnya, ada program yang mensyaratkan Writing minimal 6.0 dan Speaking minimal 6.0, meskipun overall score-mu sudah memenuhi syarat. Memahami detail ini akan membantu kamu menentukan area mana yang perlu paling banyak mendapat perhatian dalam proses persiapan.
Kapan IELTS General Training Digunakan?
Meskipun tidak relevan untuk beasiswa studi, IELTS General Training memiliki kegunaannya tersendiri dan tidak bisa dianggap remeh. Jika tujuanmu adalah mendapatkan visa permanent resident di Australia atau Kanada melalui jalur imigrasi terampil (skilled migration), maka IELTS General Training adalah yang diminta. Begitu pula jika kamu ingin melamar pekerjaan formal di Inggris melalui jalur visa tertentu, atau mendaftar program pelatihan kejuruan dan kursus bahasa di institusi pendidikan yang tidak mensyaratkan kualifikasi akademis tinggi.
Jadi, sebelum mendaftar tes, selalu pastikan dulu tujuan penggunaan sertifikat IELTS-mu. Apakah untuk kuliah atau beasiswa? Pilih Academic. Apakah untuk migrasi atau pekerjaan? Pilih General Training. Kesalahan dalam memilih jenis tes bisa berarti kamu harus mengulang tes dari awal, yang tentu membuang waktu dan biaya yang tidak sedikit.
Berapa Skor IELTS yang Dibutuhkan untuk Beasiswa?
Skor IELTS dinyatakan dalam band score yang berkisar dari 0 hingga 9 dengan interval 0.5. Setiap komponen (Listening, Reading, Writing, Speaking) mendapat skor sendiri-sendiri, lalu dirata-rata menjadi overall band score. Untuk keperluan beasiswa S2, sebagian besar program mensyaratkan overall band score minimal 6.0 hingga 6.5. Untuk program yang lebih kompetitif atau prestisius, seperti beasiswa doktoral di universitas top dunia, skor 7.0 ke atas sering menjadi standar minimum.
Bagi guru dan dosen yang ingin apply beasiswa pengembangan profesional, skor yang biasa diminta berkisar antara 5.5 hingga 6.5, tergantung program dan negara tujuan. Yang perlu diingat, sertifikat IELTS hanya berlaku selama dua tahun sejak tanggal tes. Artinya, kamu harus merencanakan dengan baik kapan mengambil tes agar sertifikatnya masih valid ketika kamu memasukkan aplikasi beasiswa.

Tips Mempersiapkan IELTS Academic untuk Beasiswa
Mempersiapkan IELTS Academic membutuhkan strategi yang berbeda dari sekadar belajar bahasa Inggris secara umum. Berikut adalah beberapa tips yang terbukti efektif.
Pertama, kenali format tes secara mendalam. Banyak orang gagal bukan karena kemampuan bahasanya kurang, tetapi karena tidak familiar dengan format dan tipe soal IELTS. Luangkan waktu untuk mempelajari setiap jenis pertanyaan di setiap komponen, mulai dari True/False/Not Given di Reading hingga tipe esai yang paling sering keluar di Writing Task 2.
Kedua, latih Writing Task 1 secara intensif. Kemampuan mendeskripsikan grafik, tabel, diagram, dan peta dalam bahasa Inggris akademis adalah keterampilan yang sangat spesifik dan membutuhkan latihan khusus. Pelajari cara menggunakan kosakata deskriptif yang tepat seperti ‘a significant increase’, ‘a gradual decline’, ‘the proportion remained stable’, dan struktur kalimat yang variatif.
Ketiga, biasakan membaca teks akademis. Salah satu cara terbaik melatih kemampuan Reading Academic adalah dengan membiasakan diri membaca artikel dari jurnal ilmiah, laporan penelitian, atau situs seperti BBC, The Guardian, atau National Geographic. Ini sekaligus memperluas kosakata akademis yang sangat dibutuhkan di semua komponen tes.
Keempat, jangan abaikan Speaking. Banyak peserta IELTS lebih banyak berlatih Listening, Reading, dan Writing, tetapi kurang mempersiapkan Speaking. Padahal, Speaking sering menjadi komponen yang skornya paling rendah karena kita tidak terbiasa berbicara bahasa Inggris secara spontan dan terus-menerus. Biasakan berbicara bahasa Inggris setiap hari, rekam dirimu sendiri, dan minta umpan balik dari orang yang lebih berpengalaman.
Kelima, ikuti kursus persiapan IELTS yang terstruktur. Belajar sendiri memang mungkin, tetapi memiliki instruktur yang memberikan umpan balik personal akan sangat mempercepat progresmu. Kursus yang terstruktur juga memastikan bahwa kamu melatih semua komponen secara proporsional dan tidak mengabaikan area yang menjadi kelemahanmu.
Kesimpulan
Jika tujuanmu adalah mendaftar beasiswa untuk melanjutkan studi ke luar negeri, jawabannya sudah sangat jelas: kamu perlu mengambil IELTS Academic, bukan General Training. IELTS Academic adalah standar internasional yang diakui oleh hampir seluruh universitas dan lembaga pemberi beasiswa di dunia, termasuk LPDP, Chevening, Australia Awards, dan ratusan program beasiswa lainnya. Memilih General Training untuk keperluan beasiswa bukan hanya sia-sia, tetapi bisa membuat aplikasimu langsung gugur di tahap verifikasi dokumen. Jadi, pastikan kamu tidak salah langkah sejak awal.
Hal yang tidak kalah penting adalah memahami bahwa skor IELTS yang bagus tidak datang begitu saja tanpa persiapan yang matang dan terstruktur. Setiap komponen tes, mulai dari Listening, Reading, Writing, hingga Speaking, memiliki karakteristik dan strategi pengerjaannya masing-masing. Semakin awal kamu mulai mempersiapkan diri dengan cara yang tepat, semakin besar peluangmu untuk mendapatkan skor yang memenuhi syarat beasiswa incaranmu. Ingat, beasiswa adalah persaingan, dan skor IELTS yang tinggi bisa menjadi pembeda yang sangat signifikan di antara ratusan bahkan ribuan pelamar.
Untuk kamu yang serius ingin meningkatkan skor IELTS Academic secara efektif dan efisien, IELTS Preparation di Telkom University Language Center (LaC) adalah pilihan yang tepat. Program ini dirancang khusus untuk mempersiapkan peserta menghadapi tes IELTS dengan pendekatan yang terstruktur, mulai dari pengenalan format tes, latihan soal per skill, simulasi tes, hingga umpan balik personal dari instruktur berpengalaman. Tersedia dalam tiga level (target band 5,0 hingga 7,5) dan menggunakan buku Mindset for IELTS from Cambridge, kursus ini memastikan kamu tidak hanya siap secara teknis tetapi juga percaya diri menghadapi hari tes yang sebenarnya. Daftar sekarang di https://lac.telkomuniversity.ac.id/kursus-bahasa/ielts-preparation/ dan jadikan sertifikat IELTS-mu tiket emas menuju beasiswa impian!
Eksplorasi konten lain dari Telkom University Language Center
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.