
Makna Kata Sapaan dalam Budaya Korea: Oppa Hingga Sunbae
Demam Hallyu atau Korean Wave yang melanda seluruh penjuru dunia telah membuat banyak dari kita familier dengan kosakata bahasa Korea sehari-hari. Mulai dari drama televisi, lagu-lagu K-Pop, hingga acara varietas, telinga kita sudah terbiasa menangkap seruan-seruan akrab yang diucapkan oleh para idola. Namun, tahukah kamu bahwa kata sapaan dalam budaya Korea bukan sekadar panggilan pengganti nama, melainkan sebuah sistem hierarki sosial yang sangat terstruktur? Di Korea Selatan, bagaimana caramu memanggil seseorang bisa menunjukkan tingkat kedekatan, perbedaan usia, hingga status sosial di antara kedua belah pihak.
Bagi remaja dan mahasiswa yang sedang belajar bahasa Korea, memahami konteks di balik setiap sapaan adalah sebuah kewajiban yang tak bisa ditawar. Terjemahan di layar kaca sering kali menyederhanakan kata oppa menjadi “kakak” atau bahkan “sayang”, padahal penggunaan aslinya di dunia nyata jauh lebih kompleks dan berlapis. Jika kamu sembarangan memanggil orang Korea asli dengan sebutan yang tidak pada tempatnya, alih-alih terdengar ramah dan akrab, kamu justru bisa dianggap kurang ajar atau tidak memiliki sopan santun.
Oleh karena itu, artikel ini akan membedah secara tuntas makna filosofis dan aturan main di balik berbagai panggilan bahasa Korea. Kita tidak hanya akan membahas sapaan yang populer di kalangan penggemar budaya pop, tetapi juga sapaan formal di dunia kerja maupun ruang publik. Dengan memahami spektrum penuh dari panggilan-panggilan ini, kamu akan selangkah lebih maju dalam menguasai bahasa Korea layaknya seorang penutur asli yang sangat peka terhadap konteks sosial di sekitarnya.

A. Fondasi Komunikasi: Usia dan Hierarki Sosial
Sebelum kita masuk ke dalam daftar kosakatanya, ada satu hal fundamental yang harus kita sepakati bersama saat belajar bahasa Korea. Di Korea Selatan, usia adalah salah satu faktor penentu utama dalam membangun relasi. Saat dua orang asing pertama kali bertemu, biasanya salah satu pertanyaan pertama yang akan terlontar adalah seputar tahun kelahiran. Ini bukan bermaksud untuk mencampuri urusan pribadi, melainkan untuk menentukan posisi hierarki agar mereka tahu sapaan apa yang harus digunakan dan tingkat kesopanan bahasa (jeondaetmal atau banmal) yang harus diterapkan.
Jika usiamu lebih muda, kamu diwajibkan untuk menunjukkan rasa hormat melalui penggunaan bentuk bahasa yang lebih sopan dan menyisipkan gelar kekerabatan atau posisi sosial yang tepat. Sebaliknya, orang yang lebih tua memiliki privilese untuk menggunakan bahasa yang lebih santai dan memanggil yang lebih muda dengan nama kecilnya. Budaya Konfusianisme yang mengakar kuat di semenanjung Korea inilah yang melahirkan variasi sapaan yang begitu kaya dan spesifik.
B. Panggilan Kekerabatan yang Menjadi Sapaan Sosial
Dalam masyarakat Korea, gelar keluarga sering kali diekspansi untuk digunakan kepada orang di luar hubungan darah asalkan ada kedekatan emosional. Namun, ada aturan tegas berbasis gender yang tidak boleh ditabrak.
1. Oppa (오빠) dan Hyung (형) untuk Laki-laki yang Lebih Tua
Kata Oppa secara harfiah berarti “kakak laki-laki”, namun panggilan ini secara eksklusif hanya boleh diucapkan oleh perempuan. Di masa lalu, sapaan ini benar-benar hanya digunakan untuk kakak kandung. Namun di era modern, Oppa meluas menjadi panggilan dari perempuan kepada teman laki-laki yang lebih tua namun sudah akrab, senior di kampus yang dekat, hingga kekasih. Sayangnya, banyak pelajar asing yang asal memanggil laki-laki Korea dengan Oppa saat baru pertama kali bertemu. Hal ini bisa membuat lawan bicara merasa canggung karena sapaan ini menuntut tingkat kedekatan tertentu.
Sementara itu, jika kamu adalah seorang laki-laki dan ingin memanggil teman laki-laki yang lebih tua, sapaan yang tepat adalah Hyung. Sapaan ini bermakna persaudaraan dan solidaritas sesama laki-laki. Di Korea, ikatan hyung-dongsaeng sangatlah kuat, sering kali melebihi sekadar pertemanan biasa. Seorang Hyung biasanya merasa bertanggung jawab untuk mentraktir makan atau menjaga adik laki-lakinya (dongsaeng).
2. Unnie (언니) dan Noona (누나) untuk Perempuan yang Lebih Tua
Sama seperti konsep sebelumnya, perempuan yang memanggil perempuan lain yang lebih tua akan menggunakan sapaan Unnie. Panggilan ini menciptakan aura “sisterhood” atau persaudaraan perempuan yang sangat kental. Di tempat kerja yang santai atau salon kecantikan, kamu bahkan akan sering mendengar staf perempuan saling memanggil Unnie untuk membangun suasana kerja yang hangat dan mematahkan batasan formalitas.
Di sisi lain, Noona adalah panggilan khusus dari laki-laki kepada perempuan yang lebih tua. Menariknya, dalam dinamika budaya pop modern, banyak perempuan Korea yang senang dipanggil Noona oleh laki-laki yang lebih muda karena hal itu memberi kesan bahwa mereka dianggap sebagai sosok pelindung, dewasa, dan sering kali berujung pada percikan romansa di kalangan remaja hingga dewasa muda.
3. Dongsaeng (동생) sebagai Sapaan Universal Adik
Berbeda dengan sapaan kakak yang dipisah berdasarkan gender pembicara, Dongsaeng berlaku universal. Kata ini berarti “adik”, baik laki-laki (nam-dongsaeng) maupun perempuan (yeo-dongsaeng). Meskipun begitu, dalam percakapan sehari-hari, orang yang lebih tua jarang secara langsung memanggil lawan bicaranya dengan kata “Hei, Dongsaeng!”. Mereka biasanya akan langsung memanggil nama kecil lawan bicaranya dengan menambahkan akhiran akrab “-ah” atau “-ya” (misalnya: “Jimin-ah” atau “Yuna-ya”).
C. Hierarki Formal di Kampus dan Dunia Kerja
Ketika kamu memasuki gerbang universitas atau mulai berkarier, panggilan keluarga seperti Hyung atau Unnie perlahan digantikan oleh gelar hierarki yang lebih profesional. Di sinilah budaya senioritas Korea diuji secara nyata.
1. Sunbae (선배) dan Hubae (후배)
Sunbae berarti senior, yakni seseorang yang masuk ke sekolah, universitas, atau perusahaan lebih dulu daripada kamu, terlepas dari berapa usianya. Bahkan jika seorang Sunbae usianya lebih muda darimu secara biologis, kamu tetap harus memanggilnya dengan sebutan Sunbae-nim (tambahan “-nim” memberikan nuansa yang jauh lebih sopan) di lingkungan formal. Hubungan ini diimbangi dengan Hubae yang berarti junior. Hubungan Sunbae-Hubae adalah sistem bimbingan yang seumur hidup; seorang senior membimbing juniornya, dan sang junior membalasnya dengan rasa hormat dan kepatuhan absolut.
2. Donggi (동기) untuk Rekan Seangkatan
Bagaimana jika kamu dan temanmu masuk di tahun yang sama? Kalian disebut Donggi. Sesama Donggi biasanya memiliki ikatan yang sangat santai karena mereka tidak terikat oleh beban hierarki vertikal. Mereka bisa langsung berbicara menggunakan banmal (bahasa informal) begitu sepakat untuk menurunkan batasan formalitas di antara mereka.

D. Sapaan Sopan Kepada Orang Asing di Ruang Publik
Saat kamu berjalan-jalan di Myeongdong atau singgah di kedai makan tradisional, memanggil sembarang orang membutuhkan taktik tersendiri.
1. Ahjussi (아저씨) dan Ahjumma (아줌마)
Ahjussi digunakan untuk memanggil pria paruh baya atau pria yang sudah menikah, sedangkan Ahjumma digunakan untuk wanita paruh baya. Namun, peringatan penting bagi kamu yang sedang belajar bahasa Korea: hati-hati saat menggunakan kata Ahjumma! Banyak wanita Korea, terutama yang berada di rentang usia 30-an hingga awal 40-an, merasa tersinggung jika dipanggil Ahjumma karena sapaan ini memiliki konotasi wanita tua. Sebagai alternatif yang jauh lebih sopan dan aman di restoran atau toko, gunakanlah panggilan Imo (이모 – secara harfiah berarti bibi dari pihak ibu) atau Emonim (이모님).
2. Agassi (아가씨) dan Chonggak (총각)
Untuk perempuan muda yang belum menikah, sapaan tradisionalnya adalah Agassi, dan untuk laki-laki muda adalah Chonggak. Akan tetapi, seiring perkembangan zaman, kata Agassi sering kali dianggap memiliki nuansa yang kuno atau kadang diasosiasikan dengan stereotip tertentu oleh generasi muda. Saat ini, lebih aman memanggil anak muda yang tidak dikenal dengan sebutan Jeogiyo (저기요 – permisi) atau Haksaeng (학생 – murid) jika mereka masih terlihat usia sekolah.
E. Membangun Kesan Profesional Lewat Gelar Jabatan
Terakhir, di dunia profesional yang serius, tidak ada yang memanggil dengan sebutan kekerabatan. Semua didasarkan pada gelar pekerjaan.
Sapaan Sonsaengnim (선생님) yang berarti “guru” memiliki fungsi yang sangat luas. Kata ini tidak hanya diberikan kepada tenaga pendidik di sekolah, melainkan juga digunakan sebagai sapaan sangat sopan kepada siapa saja yang patut dihormati secara profesional, seperti dokter atau konsultan ahli. Di ranah bisnis komersial, jika kamu masuk ke sebuah kafe independen atau restoran, panggillah sang pemilik dengan sebutan Sajangnim (사장님). Memanggil pemilik toko dengan Sajangnim adalah trik ampuh untuk mendapatkan senyuman lebar—dan mungkin saja bonus makanan porsi ekstra!

Memahami berbagai sebutan ini membuktikan bahwa belajar bahasa Korea tidak hanya sekadar menghafal kosakata, tetapi juga meresapi budaya saling menghormati yang mengakar kuat di dalamnya. Dari panggilan akrab antarteman hingga sapaan formal di dunia kerja, setiap kata memiliki beban makna dan aturan main yang unik. Bagi kamu yang terbiasa menonton drama Korea, membedakan setiap sapaan mungkin terasa mudah. Namun, saat mempraktikkannya langsung dalam percakapan nyata, tak jarang kita merasa kebingungan menentukan sapaan mana yang paling sopan dan sesuai dengan konteks lawan bicara.
Agar tidak salah kaprah saat berkomunikasi dengan penutur asli, langkah terbaik yang bisa kamu ambil adalah mempelajarinya secara terstruktur di lembaga resmi. Kebetulan, saat ini King Sejong Institute Bandung 2 sedang membuka pendaftaran untuk kamu yang ingin mendalami bahasa dan budaya Korea secara komprehensif. Sebagai cabang resmi dari King Sejong Institute yang memiliki 252 cabang di 87 negara, lembaga yang hadir di Telkom University sejak 2022 (berkat kerja sama dengan Kumoh National Institute of Technology) ini menawarkan kurikulum standar dari Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan. Kamu akan diajarkan langsung oleh pengajar penutur asli maupun lokal yang sudah tersertifikasi, serta bisa mengikuti berbagai acara budaya Korea yang seru.
Kabar baiknya, kamu bisa menikmati kursus intensif berdurasi 60 jam pembelajaran ini dengan Harga Promo khusus senilai Rp800.000 saja. Tersedia 8 kelas yang mencakup enam level, mulai dari Sejong Korean 1A untuk pemula murni, hingga kelas lanjutan 1B, 2A, 2B, 3A, dan 4A. Jadi, tunggu apa lagi? Jadikan mimpimu berbicara bahasa Korea selancar idola favoritmu menjadi kenyataan dengan mendaftar sekarang juga melalui tautan berikut: Kursus Bahasa Korea King Sejong Institute Bandung 2.
Penulis: Pusat Bahasa Tel-U | Editor: Auliya Rahman P | Foto: Pusat Bahasa Tel-U
Eksplorasi konten lain dari Telkom University Language Center
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.