
Bahasa Tubuh & Gestur Orang Jepang Saat Berinteraksi Sehari-hari
Bahasa tubuh orang Jepang memiliki peran yang sangat penting dalam komunikasi sehari-hari. Dalam banyak situasi, orang Jepang justru lebih mengandalkan gestur, ekspresi wajah, dan sikap tubuh dibandingkan kata-kata yang diucapkan secara langsung. Oleh karena itu, bagi siapa pun yang sedang belajar bahasa Jepang, memahami bahasa tubuh menjadi keterampilan yang tidak bisa diabaikan.
Berbeda dengan budaya Indonesia
yang cenderung ekspresif dan terbuka, budaya Jepang menjunjung tinggi kesopanan, kehatihatian, serta komunikasi tidak langsung. Kesalahan kecil dalam gestur—yang mungkin terasa biasa di Indonesia—bisa dianggap kurang sopan atau tidak pantas dalam konteks Jepang. Inilah alasan mengapa pembelajar bahasa Jepang perlu memahami aspek nonverbal sejak awal.
Artikel ini akan membahas secara mendalam berbagai gestur orang Jepang, makna di baliknya, contoh penggunaannya dalam percakapan sehari-hari, serta perbandingannya dengan kebiasaan di Indonesia. Dengan begitu, kamu tidak hanya bisa berbicara bahasa Jepang, tetapi juga “bersikap” seperti orang Jepang.
A. Peran Bahasa Tubuh dalam Budaya Jepang
Dalam budaya Jepang, komunikasi bertujuan menjaga keharmonisan (wa). Orang Jepang cenderung menghindari konflik, penolakan langsung, atau ekspresi emosi yang terlalu terbuka. Bahasa tubuh menjadi sarana untuk menyampaikan maksud secara halus tanpa harus mengucapkannya secara eksplisit.
Misalnya, diam sejenak, senyum tipis, atau anggukan kecil bisa mengandung makna yang sangat berbeda tergantung konteks. Karena itu, memahami bahasa tubuh membantu pembelajar bahasa Jepang membaca situasi dengan lebih akurat.
Bisa dikatakan, bahasa tubuh adalah “bahasa kedua” dalam komunikasi Jepang.
Gestur membungkuk (ojigi) adalah bentuk bahasa tubuh paling khas di Jepang. Gestur ini digunakan dalam hampir semua aspek kehidupan, mulai dari bertemu teman, berbicara dengan dosen, hingga berinteraksi di tempat kerja.

Jenis Ojigi:
• Eshaku (membungkuk ±15°) → situasi santai, teman, rekan sebaya
• Keirei (membungkuk ±30°) → situasi formal, dosen, atasan
• Saikeirei (membungkuk ±45° atau lebih) → permintaan maaf serius atau rasa hormat tinggi
Contoh Dialog:
A: はじめまして。よろしくお願いします。
(Hajimemashite. Yoroshiku onegaishimasu.)
B: はじめまして。
(sambil membungkuk ringan)
Penjelasan Gestur:
Saat mengucapkan salam perkenalan, membungkuk ringan menunjukkan rasa hormat dan niat baik. Tidak membungkuk sama sekali bisa dianggap kurang sopan, terutama dalam pertemuan pertama.
C. Kontak Mata: Tidak Selalu Menatap Langsung
Di Jepang, menatap mata terlalu lama bisa dianggap menantang atau tidak sopan, terutama kepada orang yang lebih tua atau memiliki status lebih tinggi. Karena itu, orang Jepang sering mengalihkan pandangan ke arah leher atau menunduk ringan.
Perbandingan Jepang vs Indonesia:
| Jepang | Indonesia |
| Kontak mata singkat | Kontak mata dianggap tanda kejujuran |
| Terlalu lama menatap = tidak sopan | Menghindari tatapan bisa dianggap tidak percaya diri |
Sebagai pembelajar bahasa Jepang, menjaga kontak mata secukupnya sudah lebih dari cukup.
D. Ekspresi Wajah yang Lebih Terkontrol
Orang Jepang dikenal jarang menunjukkan emosi ekstrem di ruang publik. Senyum sering digunakan bukan hanya saat senang, tetapi juga untuk menjaga suasana tetap nyaman.
Contoh Dialog:
A: 今日は大変でしたね。
(Kyou wa taihen deshita ne.)
B: そうですね。
(tersenyum tipis)
Penjelasan Gestur:
Senyum di sini bukan berarti bahagia, tetapi bentuk kesopanan dan usaha menjaga keharmonisan percakapan.
Di Indonesia, ekspresi wajah biasanya lebih jujur dan langsung mencerminkan perasaan.

E. Gestur Tangan yang Halus dan Terbatas
Gestur orang Jepang cenderung minimalis. Gerakan tangan yang berlebihan bisa dianggap terlalu dramatis atau tidak profesional.
Contoh Gestur Unik:
• Menunjuk diri sendiri → menunjuk hidung
• Memanggil orang → telapak tangan menghadap ke bawah
Perbandingan Jepang vs Indonesia:
| Jepang | Indonesia |
| Gerakan kecil & halus | Gestur tangan lebih ekspresif |
| Gestur berlebihan kurang sopan | Gestur aktif dianggap wajar |
F. Menjaga Jarak Fisik dan Minim Sentuhan
Sentuhan fisik seperti memeluk atau menepuk bahu jarang dilakukan di Jepang, kecuali dengan orang yang sangat dekat. Bahkan berjabat tangan pun tidak selalu umum.
Contoh Situasi:
Sentuhan fisik seperti memeluk atau menepuk bahu jarang dilakukan di Jepang, kecuali dengan orang yang sangat dekat. Bahkan berjabat tangan pun tidak selalu umum.
G. Gestur yang Perlu Dihindari oleh Pembelajar Bahasa Jepang
Beberapa gestur yang umum di Indonesia bisa dianggap kurang sopan di Jepang, seperti:
• Menunjuk orang dengan jari telunjuk
• Menyilangkan tangan di depan dada saat berbicara dengan atasan
• Menaruh tangan di saku saat berinteraksi formal
Menghindari gestur ini akan membuat kamu terlihat lebih menghormati budaya Jepang.

H. Bahasa Tubuh dalam Situasi Formal dan Informal
Gestur orang Jepang sangat dipengaruhi konteks. Di lingkungan formal seperti kampus atau tempat kerja, sikap tubuh cenderung lebih kaku dan sopan. Sementara dalam lingkungan pertemanan, gestur bisa sedikit lebih santai.
Sebagai pembelajar, penting untuk membaca situasi dan menyesuaikan bahasa tubuh agar komunikasi berjalan lancar.
| Aspek | Jepang | Indonesia |
| Cara menyapa | Membungkuk | Jabat tangan |
| Ekspresi emosi | Terkontrol | Ekspresif |
| Kontak fisik | Minim | Lebih sering |
| Gestur tangan | Halus | Lebih bebas |
Memahami bahasa tubuh dan gestur orang Jepang adalah bagian penting dari proses belajar bahasa Jepang secara utuh. Dengan memahami komunikasi nonverbal, kamu tidak hanya bisa berbicara dengan benar, tetapi juga bersikap dengan tepat sesuai budaya.
Bagi kamu yang ingin belajar bahasa Jepang dari dasar dengan pendekatan yang mudah dan aplikatif, Telkom University Language Center (LaC) menyediakan kursus Bahasa Jepang secara online sehingga fleksibel diikuti dari mana saja.
Kursus ini tersedia level dasar dan berfokus pada penggunaan bahasa Jepang dalam bentuk Romaji, tanpa Hiragana, Katakana, atau Kanji. Materinya dirancang agar peserta memahami struktur kalimat, tata bahasa dasar, dan kosakata sehari-hari dengan lebih mudah.
Peserta akan mempelajari kata penunjuk jarak, keterangan waktu, kata sifat, kata kerja dasar, serta perbedaan penggunaan kosakata dalam berbagai konteks. Dengan biaya terjangkau, kurang dari 1 juta untuk 24 pertemuan, kamu sudah bisa mulai membangun fondasi bahasa Jepang yang kuat.
Daftar sekarang di: https://lac.telkomuniversity.ac.id/kursus-bahasa/bahasa-jepang/
Penulis: Pusat Bahasa Tel-U | Editor: Auliya Rahman P | Foto: Pusat Bahasa Tel-U
Eksplorasi konten lain dari Telkom University Language Center
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.